BEJO MELAWAN DOKTOR ITA

Dalam novel KEMI: CINTA KEBEBASAN YANG TERSESAT, Karya Dr. Adian Husaini, Bejo Sagolo adalah wartawan senior, andalan MAJALAH WANITA PAGINASIA. Sedang Doktor Ita, atau lengkapnya Demiwan Ita adalah sosok feminis terkemuka di Indonesia. Berikut ini wawancara mereka berdua di sebuah cafe yang dimuat dalam Rubrik Tabusitida. Selamat merenungi, menikmati dan mengambil pelajaran, ….

“Doktor Ita! Benar? Selamat bertemu saya, Bejo, wartawan spesialis masalah-masalah tabu.”

“Apa yang menarik kok Anda mau mewancarai saya. Saya kan bukan selebritis.”

“Doktor Ita, Anda begitu terkenal. Jangan suka pura-pura. Anda khas sekali! Berkerudung, dinamis, super sibuk, aktivis gender, pinter, dan cantik lagi. Tolong jawab dengan jujur: apa Anda puas dengan pencapaian Anda sekarang?”

“Saya bersyukur!”

“Yang saya tanya, puas atau tidak?”

“Kalau Anda maunya saya merasa puas, ya saya jawab puas. Anda maunya tidak puas, saya jawab tidak puas. Terserah apa maunya Anda.”

“Saya wartawan. Mau saya, Anda menjawab tidak puas! Biar ada berita bagus.”

“Saya sudah menduga begitu. Otak nakal wartawan sudah saya tebak. Anda maunya cari sensasi. Nanti Anda tulis judul wawancara ini besar-besar: Doktor Ita: Saya Belum Puas! Gitu kan mau Anda?”

“Selamat, Anda lulus. Cerdas. Tapi, jangan puas dulu. Saya akan menguji sejauh mana Anda benar-benar seorang feminis yang berpikir bebas dan merdeka. Apa Anda bahagia dengan kehidupan keluarga Anda?”

“Ya, saya bahagia. Keluarga saya harmonis! Bahkan sangat harmonis!”

“Apa suami Anda rela, Anda hampir tidak pernah di rumah, Anda sering seminar, pergi ke luar negeri berminggu-minggu, pulang sering larut malam; Anda sering pergi berdua dengan sopir laki-laki; apa suami Anda tidak mempersoalkan itu?”

“Suami saya orangnya sangat pengertian.”

“Bagaimana dengan anak-anak Anda?”

“Maaf, Anda sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi dan keluarga saya. Ini tidak relevan dengan topik pembicaraan kita, masalah kebebasan perempuan.”

“Maaf, ini sangat relevan. Anda jangan salah paham, saya justru ingin membuktikan bahwa pemikiran Anda yang sering dituduh liberal itu terbentuk semata-mata karena masalah pemikiran, bukan karena faktor ekonomi, sosial, kondisi fisik, dan sebagainya.”

“Itu sudah jelas, kenapa Anda tanya lagi. Anda kan mau menyinggung bahwa saya tidak punya anak; saya mandul, lalu Anda mau katakan bahwa semua itu berpengaruh terhadap pemikiran saya? Begitu kan!”

“Anda jangan emosi gitu, dong. Anda kan dosen peneliti, aktivis gender kelas dunia, masak begitu saja sudah emosi. Ingat Anda sudah tahu, Anda berhadapan dengan Bejo, wartawan khusus masalah tabu.”

“Saya tidak emosi. Tuduhan-tuduhan semacam itu tuduhan murahan. Saya ini ikhlas berjuang demi tegaknya nilai-nilai agama yang rahmatan lil ‘alamin, agama yang menghargai harkat dan martabat manusia; siapapun dia; agamanya apa pun, sukunya apa pun, juga orientasi seksualnya. Itu semua tidak ada kaitan dengan kondisi pribadi saya.”

“Apakah Anda merasa bersyukur tidak dikaruniai anak?”

“Saya selalu bersyukur. Karena tanggung jawab saya  ringan.  Saya justru bisa banyak membantu masyarakat?”

“Apa suami Anda tidak ingin punya anak?”

“Ya pasti. Itu kan naluri manusia. Tetapi suami saya sangat pengertian. Ia ikhlas menerima keadaan saya.”

“Hebat sekali  suami Anda. Ia begitu baik, rela menerima kondisi Anda dan aktivitas Anda yang begitu padat. Luar biasa sekali suami Anda itu. Saya ingin kenal. Boleh nggak saya wawancarai dia?”

“Ya tentu boleh. Meskipun pendidikannya teknik, ia memiliki wawasan pemikiran yang sangat luas. Ia juga sangat setuju dengan perjuangan saya mewujudkan kemerdekaan perempuan dan keseteraan antara laki-laki dengan perempuan.”

“Apa benar, saya dengan-dengar kalau di rumah, Anda yang menjadi imam shalat, bukan suami Anda?”

“Kenapa soal begini dipersoalkan. Ini hal yang sudah biasa sebenarnya. Kebiasaan yang mengharuskan laki-laki menjadi imam shalat itu bukan ajaran Islam, itu soal budaya, kebiasaan orang-orang Arab yang budayanya patriarkat, selalu mengedepankan laki-laki. Karena ilmu fiqih ini dulunya disusun kaum laki-laki, selama ini hukum-hukum fiqih itu dianggap seolah-olah sebagai hukum Islam. Padahal, hukum itu kaitannya dengan budaya.”

“Jadi, kalau budayanya matriarkat, yang jadi imam shalat juga perempuan, yang ngasih mas kawin juga perempuan, kambing untuk aqiqah bagi bayi perempuan juga harus lebih banyak dari bayi laki-laki; yanga memimpin keluarga juga perempuan. Apa benar begitu menurut Anda?”

“Ya memang begitu! Prinsipnya kesetaraan. Kalau memang laki-laki lebih hebat, ia boleh memimpin. Bukan karena laki-laki, lalu ia punya hak memimpin. Perempuan juga boleh memimpin kalau ia lebih mampu.”

“Termasuk dalam rumah tangga?”

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Kalau di rumah Anda, siapa yang memimpin. Anda atau suami Anda?”

“Kami sama-sama. Bergantung masalahnya. Karena saya lebih bagus bacaan al-Qur’annya, saya yang memimpin shalat.”

“Pemikiran seperti itu dianggap aneh oleh masyarakat kita. Para kyai pernah protes pada Anda?”

“Itu karena mereka laki-laki dan berpikirnya male oriented, berpikir hanya untuk kepentingan laki-laki.”

“Banyak juga perempuan yang mengkritik Anda.”

“Perempuan itu sudah terkooptasi oleh kepentingan laki-laki.”

“Kalau begitu, Anda juga berpikir terlalu female oriented?”

“Itu pasti.”

“Berarti pemikiran seseorang bergantung jenis kelaminnya?”

“Ada pengaruhnya!”

“Apa manusia itu berpikir dengan akal atau alat kelamin?”

“Pertanyaan Anda itu ngawur. Manusia berpikir ya dengan akal, bukan dengan alat kelamin. Anda ini nanyanya aneh! Memang jenis kelamin pasti ada pengaruhnya pada pemikiran.”

“Banyak kyai yang mengkritik ide Anda, dengan mengatakan para sahabat Nabi Muhammad, bahkan para istri Nabi, memiliki pemikiran fiqih yang sama dengan sahabat Nabi yang laki-laki. Banyak juga sekarang cendekiawan perempuan, termasuk kolega-kolega Anda di kampus Anda. Mereka menerima fiqih Islam, menerima kepemimpinan  laki-laki sebagai kepala rumah tangga; bahkan ada doktor terkenal lulusan Amerika juga mengkritik ide-ide Anda yang terlalu western-oriented!”

“Itu mereka tidak mengerti semua. Tidak mengerti hakikat wanita!”

“Jadi, Anda saja yang pintar? Ada yang bilang, Anda ini pintar tapi keblinger?”

“Anda ini wartawan kok ngaco. Kalau wartawan yang  cerdas dong…!”

“Ha-ha-ha…. makanya, supaya cerdas, saya bertanya. Anda ini aktivis besar, jangan suka marah. Anda sering menulis tentang perlunya kebebasan berpendapat, perlunya umat Islam tidak suka marah-marah kalau dikritik; lha Anda baru ditanya begitu saja, sudah emosi! Jangan-jangan, memang latar belakang kondisi pribadi Anda itu yang mempengaruhi pemikiran Anda sekarang ini sehingga jiwa anda kurang stabil. Anda begini karena latar belakang masa kecil dan keluarga Anda, kondisi Anda yang tidak punya anak. Jadi pikiran Anda tidak stabil, terlalu emosional!”

“Saya tidak suka wartawan seperti ini. Dihentikan saja. Tidak ada gunanya!”

“Jangan marah begitu dong …. sabar dulu! Ini termasuk masalah tabu.”

“Anda sudah menyinggung harga diri saya?”

“Saya kan bertanya, kenapa Anda marah?”

“Saya tidak marah, tetapi pertanyaan Anda itu tidak sopan!”

“Mana yang tidak sopan. Katanya Anda suka keterbukaan dan kebebasan. Kan Anda memperjuangkan kebebasan berpendapat, kebebasan beragama. Anda menulis kritik keras ketika orang-orang Islam marah-marah karena Nabi Muhammad dihina, Nabi Muhammad dipalsukan. Anda tulis, mereka belum bisa bersikap dewasa! Apa Anda tiak marah kalau agama Anda dilecehkan, Nabi Anda dihina? Anda ternyata mudah marah kalau pribadi Anda yang disinggung? Anda bisa marah juga, kan? Beda sekali dengan sifat Nabi Muhammad, yang marah jika agamanya disinggung, bukan pribadinya.”

“Anda mestinya tahu hal-hal yang sensitif bagi perempuan. Yang saya dengan, Anda ini wartawan hebat, kok nanyanya seperti ini. Pertanyaan tidak bermutu. Murahan! Yang saya tidak suka pada orang-orang yang marah itu adalah penggunaan kekerasan, wajahnya garang-garang….”

“Ha-ha-ha …. makanya, saya tidak menggunakan kekerasan. Saya hanya bertanya, tapi Anda sudah marah-marah! Jangan begitu dong, Bu Doktor! Tidak baik bagi citra Anda. Kalau saya tulis, “Ternyata Doktor Ita yang di TV suka senyum-senyum, menampilkan diri sebagai perempuan cerdas, matang, tidak suka mudah marah, ternyata itu hanya akting saja!” Kan tidak enak bagi pembaca. Nama Anda akan jatuh. Anda harus tahu, saya ini siapa? Banyak orang terkenal meminta pemimpin redaksi majalah saya agar bisa wawancara dengan saya. Jadi, Anda beruntung bisa masuk dalam daftar wawancara saya. Sekarang saja sudah antre yang mau saya wawancara.”

“Jangan sok-lah. Saya juga tahu siapa Anda. Dari tadi saya tidak marah. Hanya saya minta Anda lebih sopan. Saya menghargai profesi Anda. Anda juga harus menghargai saya sebagai narasumber.”

“Nah begitu, dong. Itu namanya Anda aktivis sejati, berjiwa besar sekali. Tidak mudah tersinggung! Tolong jawab dengan jujur. Berani nggak Anda bersumpah: Jika saya bohong, saya akan dilaknat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.”

“Itu Anda terlalu jauh. Kalau macem-macem, lebih baik saya pergi!”

“Baik, Anda tidak usah pergi. Nggak usah sumpah. Tolong jawab pertanyaan saya. Apa Anda mencintai suami Anda?”

“Ini sudah saya jawab. Kenapa tanya lagi?”

“Anda setuju bahwa rumah tangga akan bahagia jika dilandasi saling cinta. Saling percaya. Cinta akan langgeng jika dilandasi semangat pengorbanan. Jika cinta itu murni, tentunya ia rela berkorban demi orang yang dicintai. Anda setuju dengan pemikiran semacam itu?”

“Ya, jelas setuju! Contohnya saja, seorang ibu rela berkorban karena mencintai anaknya. Ibu rela menderita demi kebahagiaan anaknya. Itu konsep cinta sejati. Orang dikatakan cinta tanah air, jika ia rela berkorban untuk tanah airnya. Kenapa Anda tanya begitu?”

“Suami Anda begitu besar pengorbanannya. Apa Anda tidak ingin membahagiakan dia; berkorban buat dia?”

“Apa maksud Anda?”

“Anda izinkan ia menikah dengan perempuan lain sehingga ia bahagia dan bisa memiliki anak!”

“Itu urusan saya dan suami saya. Itu urusan pribadi. Jangan dibawa-bawa ke ranah publik.”

“Kata Anda, pemikiran seseorang bisa dipengaruhi lingkungannya. Maka saya tanya, supaya masyarakat yakin benar bahwa Anda menjadi seperti ini tidak ada hubungannya dengan kondisi fisik Anda!”

“Silakan saja kalau suami saya mau. Tapi saya yakin, suami saya atidak akan melakukan itu. Tidak akan poligami!”

“Kok nada suara Anda kedengarannya tidak ikhlas. Katanya cinta perlu pengorbanan! Anda cinta kan pada suami Anda? Apa Anda rela berkorban untuk kebahagiannya?”

“Itu bukan pengorbanan. Kalau ia mau kawin lagi, itu melanggar prinsip perjuangan saya bahwa laki-laki dan perempuan harus setara. Kawin itu satu lawan satu. Satu suami-satu istri. Itu prinsip bagi saya. Tapi, saya tahu benar, suami saya baik; tidak mungkin ia melakukan itu karena selama ini ia terbukti rela berkorban untuk saya! Ia tidak mau menyakiti saya.”

“Mengapa Anda suruh suami Anda berkorban untuk Anda; Anda tidak bangga suami Anda mau memahami kondisi Anda. Mengapa bukan Anda yang bangga bercerita kepada dunia bahwa Anda juga rela berkorban demi kebahagiaan suami Anda; mendorongnya untuk menikah lagi agar bisa mempunyai anak. Mengapa tidak begitu?”

“Suami saya tidak mungkin mau menikah lagi. Itu komitmen yang kami bangun. Satu suami-satu istri!”

“Meskipun Anda berdua tidak punya anak sampai akhir hayat?”

“Ya, tidak masalah bagi kami. Kami bahagia. Anak bukan tujuan pokok dalam perkawinan, yang penting suami-istri saling mencintai, saling menghargai!”

“Itu makanya Anda mendukung perkawinan sesama jenis!”

“Itu tidak ada kaitannya. Itu semata-mata rasa kemanusiaan. Kasihan, mereka kan juga manusia ….”

“Kalau suami Anda tiba-tiba kawin lagi diam-diam!”

“Itu tidak mungkin. Titik!”

“Kalau dia selingkuh?”

“Itu juga tidak mungkin!”

“Ia laki-laki normal kan?”

“Sangat normal!”

“Jadi, yang tidak normal siapa?”

“Semua normal!”

“Apa Anda mau begitu terus sampai tua?”

“Setiap perempuan merindukan anak. Saya sudah berusaha sekuat tenaga. Tetapi saya belum dikaruniai. Jadi saya terima takdir ini.”

“Lalu sebagai pelarian, Anda aktif dalam gerakan feminis ini?”

“Ini bukan pelarian. Anda lihat, banyak kawan saya yang berkeluarga, punya suami, punya anak, tetapi pikirannya sama dengan saya.”

“Makanya saya tanya untuk Anda. Sebab, Anda memiliki pemikiran dan gerakan hebat yang kata Anda bertujuan untuk membebaskan kaum perempuan dari ketertindasan.”

“Ya, dan saya tegaskan, itu tidak ada hubungannya dengan kondisi keluarga saya.”

“Andaikan harus memilih, antara keluarga atau aktivitas perjuangan, Anda pilih mana?”

“Pilih dua-duanya.”

“Andaikan suatu ketika suami Anda meminta Anda untuk menghentikan kegiatan Anda ini karena dinilai sudah terlalu jauh menyimpang dari ajaran Islam, sikap Anda bagaimana?”

“Dia tidak mungkin melakukan itu.”

“Kenapa tidak mungkin? Ia juga manusia. Ia juga laki-laki. Anda tahu nggak perasaan laki-laki. Saya ini laki-laki, saya bisa membayangkan bagaimana perasaan suami Anda itu. Kalau saya nih, jujur, saya tidak rela istri saya berkeluyuran dengan laki-laki lain, pergi meninggalkan rumah seenaknya berminggu-minggu, seminar sana seminar sini. Kapan ngurus suami?”

“Kepala Anda ini masih dipenuhi dengan pemikiran yang bias gender. Itu pikiran kuno yang sudah tidak zamannya lagi. Katanya, perempuan harus melayani suami, perempuan harus mengabdi pada suami, perempuan akan masuk surga kalau taat pada suami. Itu konsep kuno yang sudah harus ditinggalkan!”

“Kan manusia itu juga makhluk kuno!”

“Ya, tetapi manusia juga dipengaruhi budaya masing-masing.”

“Maksud Anda, kalau di rumah, yang membuatkan minum, yang mencucikan baju suami Anda siapa?”

“Ya dia bisa ngatur sendiri. saya juga ngatur sendiri. dia bisa buat minum sendiri. saya sibuk, dia juga sibuk. Kalau saya sempat, saya yang buat. Kalau tidak sempat, dia yang buat. Kami saling pengertian. Kami bertemu kalau sama-sama ada waktu kosong.”

“Andaikan Anda dikasih anak, siapa yang harus merawat, menyusui, menjaga anak?”

“Ya, nanti diatur berdasarkan kesepakatan. Suami juga bisa mengasuh anak. Kenapa harus perempuan? Yang bersifat kodrati dari perempuan itu Cuma mengandung dan melahirkan. Itu yang laki-laki tidak bisa!”

“Kalau menyusui?”

“Laki-laki juga bisa. Caranya saja, bisa menggunakan botol! Ini sudah zaman modern, semua bisa dengan teknologi!”

“Lalu buat apa perempuan dikasih payudara? Kan gunanya untuk menyusui anak?”

“Ah, Anda ini sudah ketinggalan zaman, kurang bacaan.”

“Makanya saya tanya sama Anda yang bacaannya banyak!”

“Anda baca saja buku ini!” Doktor Ita mengeluarkan sebuah buku gender terbitan sebuah Pusat Studi Wanita di satu kampus Islam di Jogjakarta. “Baca ini! Ini bagus. Menjelaskan dengan sangat rinci semua landasan pemikiran prinsip kesetaraan gender.”

“Terima kasih. Nanti saya baca. Saya sudah baca beberapa buku, sebelum wawancara dengan Anda ini. Makanya saya bisa memahami jalan pikiran Anda!”

“Ya begitulah, wartawan harus banyak baca supaya wawasannya luas!”

….

Bejo menyimak tulisan di sampul belakang buku berjudul Isu-Isu Gender dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah yang dikasih oleh Doktor Ita:

“Sudah menjadi keprihatinan bersama bahwa kedudukan kaum perempuan dalam sejarah peradaban dunia, secara umum, dan peradaban Islam secara khusus, telah dan sedang mengalami penindasan. Mereka tertindas oleh sebuah rezim laki-laki; sebuah rezim yang memproduksi pandangan dan praktik patriarkat dunia hingga saat ini. Rezim ini masih terus bertahan hingga kini lantaran ia seakan-akan didukung oleh ayat-ayat suci. Sebab itu, sebuah pembacaan yang mampu mendobrak kemapanan rezim laki-laki ini merupakan kebutuhan yang sangat mendesak saat ini untuk dilakukan.”

“Saya tidak asing dengan cara berpikir seperti Anda ini. Tahu nggak, Anda sebenarnya seorang Marxian; saya sudah teliti masalah ini. Anda terperangkap dalam paham yang meletakkan laki-laki sebagai kelas penindas dan perempuan sebagai kelas tertindas. Padahal, banyak perempuan yang sangat bahagia karena bisa melayani suaminya dengan baik; bisa mencucikan baju suaminya; bisa membuatkan minum buat suaminya; bisa mengasuh anak dengan baik; bisa menyusui anaknya; bisa berbakti pada suami; taat pada suami; mereka bahagia karena mereka meyakini itu sebagai ibadah. Mereka sama sekali tidak merasa tertindas; mereka meyakini itu sebagai ibadah.”

“Itu keyakinan yang salah. Mereka pasti tidak bahagia.”

“Lho, kok Anda memaksakan pikiran Anda. Bahkan ada yang mengaku bahagia jika suaminya menikah lagi; karena ia ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama perempuan. Ia kasihan, banyak perempuan sekarang sulit mencari suami. Mereka akhirnya minta tolong dicarikan suami, dan rela menjadi istri kedua, ketiga, atau bahkan keempat. Anda kenalkan dengan Doktor Gina, pakar aeronetika terkemuka, yang merelakan suaminya menikah lagi. Bahkan ia yang mencarikan istri bagi suaminya.”

“Itu wanita tidak normal!”

“Kok semua yang tidak sama dengan Anda dibilang tidak normal. Jangan-jangan Anda sendiri yang tidak normal. Kenapa Anda memaksakan konsep Anda untuk orang lain. Kenapa Anda tidak mau dipoligami, kenapa Anda memaksakan konsep Anda ini. Katanya perkawinan itu hak asasi manusia! Jadi, kalau memang orang mau berpoligami, suka sama suka, dan penuh kerelaan, kenapa Anda marah-marah. Bahkan Anda juga memperjuangkan undang-undang yang melarang segala praktik poligami di Indonesia. Kasihan kan, banyak perempuan yang akhirnya tidak bisa menikah?”

“Lebih baik tidak menikah daripadai dipoligami. Itu prinsip saya!”

“Tapi kan boleh orang beda pendapat dengan Anda!”

“Itu tidak mungkin. Hati perempuan yang normal dan beradab pasti tidak rela dimadu. Poligami jelas-jelas menindas perempuan. Titik!”

“Ketika cinta pada sesama perempuan mendorong rasa pengorbanan, lahirlah keinginan untuk si istri itu berbagi kebahagiaan pada sesama; ia rela suaminya menikah lagi dan hak-haknya sebagai istri berkurang. Ia senang melihat kebahagiaan juga dinikmati oleh sesamanya. Apa pikiran seperti itu juga tidak baik?”

“Itu perempuan munafik!”

“Mestinya, kalau Anda bijak dan tidak emosional, sebagai pejuang HAM, Anda harus menghormati hak orang lain untuk berpoligami. Kenapa mesti poligami dilarang? Kan itu sudah memasuki wilayah privat. Kata Anda, negara tidak boleh memasuki wilayah privat?”

“Demi kemaslahatan boleh. Poligami itu merusak, jadi harus dilarang!”

“Saya kira Anda berlebihan. Ada juga poligami yang tidak merusak. Saya sudah mewancarai puluhan pasangan poligami, banyak yang mereka bahagia hidupnya, bahkan ada yang istri-istri itu berbagai tugas, saling menjaga anak-anak mereka secara bergantian. Memang tidak semua. Ada juga yang tidak benar. Suami menelantarkan anak dan istrinya setelah kawin lagi. Itu juga ada. Jadi tidak bisa digeneralisir bahwa semua poligami merusak. Anda berlebihan menilai karena kebencian!”

“Ah, itu tidak benar. Saya berdasarkan hasil penelitian!”

“Penelitian yang sudah diatur hasilnya?”

“Nggak lah. Ini dari pusat studi wanita terkemuka di Indonesia.”

“Atau, mungkin karena Anda ketakutan suami Anda mau poligami?”

“Nggak mungkin! Suami saya tidak bertipe seperti itu. Ia laki-laki setia.”

“Hebat betul suami Anda itu. Saya ingin wawancara dengannya.”

“Silakan saja. Temui saja di kantornya. Ia ahli teknik, orangnya praktis!”

“Di rumah Anda, yang jadi kepala rumah tangga siapa?”

“Kami menerapkan prinsip kesetaraan laki-laki perempuan. Jadi tidak ada yang jadi kepala atau anak buah. Kami setara. Semua masalah dimusyawarahkan bersama. Bahkan, kalau terjadi perceraian pun, bukan suami saya yang menalak saya, tetapi kami bersepakat untuk berakhir. Tapi, insya Allah itu tidak akan terjadi. Kami saling memahami satu dengan yang lain.”

“Anda kelihatannya salah pilih suami. Mestinya Anda pilih suami yang lebih pintar dari Anda, lebih hebat ilmunya dari Anda, dan lebih tinggi karirnya dari Anda, lebih bagus bacaan al-Qur’annya dari Anda sehingga ia menjadi imam bagi Anda!”

“Itu berandai-andai. Ini sudah suratan. Justru saya merasa pas dengan suami seperti ini.”

“Kalau suami Anda kawin lagi, apakah Anda juga akan melakukan hal yang sama, berdasarkan prinsip kesetaraan tadi?”

“Ah, itu tidak mungkin. Suami saya tidak mungkin seperti itu!”

“Anda ini ternyata tidak paham jiwa laki-laki. Saya ini laki-laki. Saya punya naluri ingin dilayani, ingin istri saya ada di rumah saat saya tiba; ingin punya anak; cemburu jika istri saya bercengkerama dengan laki-laki lain.”

“Itu Anda saja. Suami saya penuh pengertian dengan saya. Kami saling percaya, itu modal kelestarian rumah tangga kami.”

“Anda membanggakan suami Anda, setia, rela berkorban; mengapa bukan Anda yang rela berkorban demi kebahagiaan suami Anda. Kalau suami mengalah, Anda bilang itu pengorbanan; kalau ada perempuan rela berkorban untuk suaminya, Anda bilang itu penindasan terhadap perempuan. Anda itu maunya menang sendiri, sangat egois.”

“Anda ini wartawan atau interogasi saya?”

“Berarti Anda tidak paham profesi wartawan. Ini cara kerja wartawan. Menggali informasi seluas mungkin. Saya tidak mau jadi wartawan gosip. Saya bisa saja buat gosip bahwa rumah tangga Anda tidak bahagia karena Anda jarang di rumah; Anda belum punya anak; Anda sudah pisah ranjang dengan suami; Anda kan orang terkenal, sering muncul di TV. Lalu,saya konfirmasi dengan Anda, dan Anda menjawab, semua itu tidak benar. Itu fitnah! Bisa saja saya melakukan seperti itu. Tapi, saya bukan wartawan model itu. Saya ingin Anda sendiri yang bercerita tentang diri Anda, bukan saya.”

“Anda lihat sendiri, apa saya tampak menderita dengan kondisi saya. Saya enjoy dengan hidup saya! Sebagai wartawan, Anda harus berpikir luas, jangan sempit; jangan pro status quo; Anda harus ikut mendobrak tradisi patriarkat yang telah menyengsarakan wanita dan membuat bangsa ini kehilangan potensi pembangunan yang sangat besar karena kaum perempuannya tidak teroptimalkan potensinya. Mereka dikurung di rumah, dikatakan tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga, akhirnya sektor publik dipegang oleh laki-laki. Politik, ekonomi, sosial, semua didominiasi laki-laki. Ini yang saya perjuangkan. Laki-laki dan perempuan setara. Sama haknya di rumah atau di luar rumah.”

“Anda ini berkerudung, katanya Anda doktor bidang hukum Islam, tetapi isi kepala Anda tidak sejalan dengan tutup kepala Anda itu?”

“Apanya yang tidak sejalan?”

“Kalau perempuan keluar rumah semua, siapa yang mendidik anak. Apa Anda menganggap pekerjaan ibu rumah tangga, mengasuh, dan merawat anak itu pekerjaan yang hina, lebih rendah martabatnya daripada menjadi menteri, anggota DPR, atau walikota?”

“Saya tidak mengatakan begitu!”

“Saya paham pikiran Anda, saya juga membaca buku-buku Anda dan perempuan-perempuan yang berpikiran sama dengan Anda. Anda kan maunya equality dalam jumlah. Misalnya, Anda berjuang agar anggota DPR 50% laki-laki dan 50% perempuan. Itu baru equality, baru kesetaraan yang sempurna. Itu kan dijadikan sebagai patokan indeks kesetaraan gender yang dijadikan salah satu penentu dalam pemeringkatan human development index oleh United Nation Development Program (UNDP). Ini kan proyek Barat yang ada kaitannya dengan kapitalisme.”

“Tuduhan Anda terlalu jauh.”

“Tidak jauh-jauh. Saya sudah baca buku Ivan Illich tentang kaitan paham kesetaraan gender dengan pengembangan kapitalisme dan konsumerisme di dunia ketiga. Menurut penelitian, perempuan cenderung mudah untuk belanja.”

“Tidak seperti itu. Kenyataannya, laki-laki selama ini memonopoli sektor publik. Lalu perempuan diharamkan masuk ruang publik sehingga Indonesia ini nggak maju-maju. Coba kalau perempuan diberi kesempatan, pasti Indonesia sudah maju dari dulu karena potensinya yang begitu besar. Karena perempuan itu lebih tekun, cermat, sabar, penyayang sehingga kalau jadi pemimpin tidak akan menindas seperti laki-laki.”

“Itulah Anda, karena kebencian besar pada laki-laki dan fanatisme yang berlebihan terhadap perempuan, akhirnya pikiran Anda tidak jernih dan tidak fair.”

“Kenapa tidak fair?”

Coba, darimana bisa disimpulkan bahwa Indonesia tidak maju karena perempuan dibatasi kiprahnya. Anda entah sengaja atau tidak sudah berpikir “sexist”, melihat orang dari segi jenis kelaminnnya. Anda salah besar. Ide Anda ini juga tidak sejalan dengan fakta sejarah. Coba lihat, dalam sejarah, di Indonesia sudah pernah muncul perempuan-perempuan hebat seperti Ratu Syafiatuddin di Aceh, Tjut Nya Din, juga Rohana Kudus di Sumatera Barat. Secara umum, isu ketertindasan perempuan oleh kaum laki-laki, sebenarnya terlalu dibesar-besarkan. Jangan-jangan memang fitrah perempuan senang “ditindas” suami …. ha-ha-ha ….”

“Ngaco itu. Anda itu pikirannya kotor!”

“Kan suami Anda penuh pengertian. Jadi nggak apa-apa kan kalau kita berlama-lama di kafe ini?”

Doktor Demiwan Inta terdiam saja. “Sudahlah, Anda wartawan tidak mutu! Baru sekarang saya bertemu wartawan seperti Anda. Bukan bicara wacana pemikiran, tapi banyak bicara pribadi. Anda lebih cocok jadi wartawan gosip.”

“Tapi, Anda sebenarnya cantik …. “

“Sudahlah, ngaco saja …. nggak laku bagi saya rayuan seperti itu. Saya mau ada seminar. Terlalu buang-buang waktu melayani wawancara Anda ….”

“Ndak lho, bener, Anda ini sangat cantik. Laki-laki normal pasti mudah tertarik pada Anda. Apalagi Anda juga cerdas. Anda tampak masih umur 30-an, padahal umur anda sudah 47 tahun …. luar biasa.”

“Itu pujian murahan. Simpan saja untuk wawancara dengan selebritis. Saya bukan tipe perempuan murahan yang goncang dengan rayuan.”

“Ya sudah, kita akhiri wawancara ini. Hanya kalau bersedia sekali lagi, tolong jawab pertanyaan saya terakhir.”

“Apa?”

“Anda pernah selingkuh, atau pernah terpikir untuk selingkuh; atau ada rencana untuk selingkuh; atau Anda setuju dengan konsep selingkuh, ketimbang poligami; atau Anda bisa memahami perempuan yang selingkuh karena kecewa dengan suaminya. Anda kan cantik, kenapa tidak selingkuh saja; kan yang penting kesetaraan gender, bukan ridha Allah?”

“Itu pertanyaan setan! Saya pergi saja ….”

“Silakan, tapi Anda yang bayar makanannya, kan Anda banyak duit; dana dari She-Cooler Foundation kan sudah turun?”

“Dasar wartawan kere!”

“Kere tapi terhormat!”

“Ini, bayarkan!” Doktor Ita membanting selembar uang 100 ribuan di meja depan Bejo. Ia berlalu. “Assalamu’alaikum!”

“Thank you, Nona …. eh sorry. Nyonya Doktor Ita yang cantik!”

Tentang orimarrupwt

Seorang IRT yang merintis bisnis kuliner rumahan dan pengobatan alternatif Thibbun Nabawi
Pos ini dipublikasikan di Belajar Agama. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s