TIPS PENGOBATAN NABAWI

Banyak sekali cara pengobatan nabawi. Berikut beberapa di antaranya, yaitu:

1. Pengobatan dengan madu

Allah SWT berfirman tentang madu yang keluar dari perut lebah “…  Dari  perut  lebah  itu  keluar  minuman  (madu)  yang  bermacam-macam  warnanya,  di  dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (An-Nahl: 69)

Madu dapat digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit dengan izin Allah SWT. Di antaranya untuk mengobati sakit perut, seperti ditunjukkan dalam hadits berikut ini: “Ada seseorang menghadap  Nabi  SAW,  ia  berkata:  ‘Saudaraku  mengeluhkan  sakit  pada  perutnya.’  Nabi  berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’  Orang  itu  datang  lagi  pada  kali  yang  ketiga,  Nabi  tetap  berkata:  ‘Minumkan  ia  madu.’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga  malah  bertambah  mencret).’  Nabi  bersabda:  ‘Allah  Mahabenar  dan  perut  saudaramu  itu  dusta. Minumkan  lagi  madu.’  Orang  itu  meminumkannya  lagi,  maka  saudaranya  pun  sembuh.”  (HR.  Al-Bukhari no. 5684 dan Muslim no. 5731)

2. Pengobatan dengan habbah sauda`  (jintan hitam, Nigella sativa)

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya  habbah  sauda`  ini  merupakan  obat  dari  semua  penyakit,  kecuali  dari  penyakit  as-samu”.  Aku  (yakni`Aisyah  radhiallahu  ‘ anha)  bertanya:  “Apakah  as-samu  itu?”  Beliau  menjawab: “Kematian.” (HR. Al-Bukhari no. 5687 dan Muslim no. 5727)

3. Pengobatan dengan susu dan kencing unta.

Anas  RA  menceritakan:  “Ada  sekelompok  orang  ‘Urainah  dari  penduduk  Hijaz  menderita sakit  (karena  kelaparan  atau  keletihan).  Mereka  berkata:  ‘Wahai  Rasulullah,  berilah  tempat  kepada kami  dan  berilah  kami  makan.’  Ketika  telah  sehat,  mereka  berkata:  ‘Sesungguhnya  udara  kota Madinah  tidak  cocok  bagi  kami .’  Rasulullah  SAW  pun menempatkan  mereka  di  Harrah,  di  dekat  tempat  pemeliharaan  unta-unta  beliau  (yang  berjumlah  3-30  ekor).

Beliau  berkata:  ‘Minumlah  dari  susu  dan  kencing  unta-unta  itu.  Tatkala  mereka  telah sehat,  mereka  justru  membunuh  penggembala  unta-unta  Nabi  SAW  (setelah  sebelumnya  mereka mencungkil  matanya)  dan  menggiring  unta-unta  tersebut  (dalam  keadaan  mereka  juga  murtad  dari Islam,  -pent.).  Nabi  SAW  pun  mengirim  utusan  untuk  mengejar  mereka,  hingga  mereka  tertangkap dan  diberi  hukuman  dengan  dipotong  tangan  dan  kaki-kaki  mereka  serta  dicungkil  mata  mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 5685, 5686 dan Muslim no. 4329)

4. Pengobatan dengan berbekam (hijamah)

Ibnu ‘Abbas RA mengabarkan: “Sesungguhnya  Rasulullah  SAW  berbekam  pada  bagian  kepalanya  dalam  keadaan  beliau  sebagai muhrim (orang yang berihram) karena sakit pada sebagian kepalanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5701)

Rasulullah  SAW  juga  bersabda:  “Obat/kesembuhan  itu  (antara  lain)  dalam  tiga  (cara pengobatan):  minum  madu,  berbekam  dan  dengan  kay,  namun  aku  melarang  umatku  dari  kay.” (HR. Al-Bukhari no. 5680)

5. Ruqyah

Di  antara  cara  pengobatan  nabawi  yang  bermanfaat  dengan  izin  Allah  SWT  adalah  ruqyah yang  syar’i,  yang  ditetapkan  dalam  Al-Qur`an  “….Katakanlah:  ‘Al-Qur`an  itu  adalah  petunjuk  dan penawar bagi orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)

“Dan  Kami  turunkan  dari  Al-Qur`an  apa  yang  merupakan  syifa`  dan  rahmat  bagi  orang-orang  yang beriman.” (Al-Isra`: 82).

Al-Hafizh  Ibnu  Hajar  Al-Asqalani  rahimahullahu  berkata  ketika  memberikan  komentar terhadap  hadits  yang  menyebutkan  tentang  wanita  yang  menderita  ayan  (epilepsi):  “Dalam  hadits ini  ada  dalil  bahwa  pengobatan  seluruh  penyakit  dengan  doa  dan  bersandar  kepada  Allah  SWT adalah  lebih  manjur  serta  lebih  bermanfaat  daripada  dengan  obat-obatan.  Pengaruh  dan  khasiatnya bagi  tubuh  pun  lebih  besar  daripada  pengaruh  obat-obatan  jasmani.  Namun  kemanjurannya hanyalah  didapatkan  dengan  dua  perkara:  1)  dari  sisi  orang  yang  menderita  sakit,  yaitu  lurus  niat/tujuannya,  2)  dari  sisi  orang  yang  mengobati,  yaitu  kekuatan  bimbingan/arahan  dan  kekuatan hatinya dengan takwa dan tawakkal. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari 10/115)

Al-Imam  Ibnu  Qayyim  rahimahullahu  berkata:  “Aku  pernah  tinggal  di  Makkah  selama beberapa  waktu  dalam  keadaan  tertimpa  berbagai  penyakit.  Dan  aku  tidak  menemukan  tabib maupun  obat.  Aku  pun  mengobati  diriku  sendiri  dengan  Al-Fatihah  yang  dibaca  berulang-ulang pada  segelas  air  Zam-zam  kemudian  meminumnya,  hingga  aku  melihat  dalam  pengobatan  itu  ada pengaruh  yang  mengagumkan.  Lalu  aku  menceritakan  hal  itu  kepada  orang  yang  mengeluh  sakit. Mereka  pun  melakukan  pengobatan  dengan  Al-Fatihah,  ternyata  kebanyakan  mereka  sembuh dengan cepat.” Subhanallah!  Demikian  penjelasan  dan  persaksian  Al-Imam  Ibnu  Qayyim  rahimahullahu terhadap  ruqyah  serta  pengalaman  pribadinya  berobat  dengan  membaca  Al-Fatihah.  (Ad-Da`u  wad Dawa` hal. 8, Ath-Thibbun Nabawi hal. 139)

Al-Imam  Ibnu  Qayyim  rahimahullahu  berkata:  “Ada  hal  yang  semestinya  dipahami,  yakni zikir,  ayat,  dan  doa-doa  yang  dibacakan  sebagai  obat  dan  yang  dibaca  ketika  meruqyah,  memang merupakan  obat  yang  bermanfaat.  Namun  dibutuhkan  respon  pada  tempat,  kuatnya  semangat  dan pengaruh  orang  yang  meruqyah.  Bila  obat  itu  tidak  memberi  pengaruh,  hal  itu  dikarenakan lemahnya  pengaruh  peruqyah,  tidak  adanya  respon  pada  tempat  terhadap  orang  yang  diruqyah,  atau adanya  penghalang  yang  kuat  yang  mencegah  khasiat  obat  tersebut,  sebagaimana  hal  itu  terdapat pada obat dan penyakit hissi.

Tidak  adanya  pengaruh  obat  itu  bisa  jadi  karena  tidak  adanya  penerimaan  thabi’ah  terhadap obat tersebut. Terkadang pula karena adanya penghalang  yang kuat  yang mencegah bekerjanya obat tersebut. Karena bila thabi’ah mengambil obat dengan penerimaan  yang sempurna, niscaya manfaat yang diperoleh tubuh dari obat itu sesuai dengan penerimaan tersebut.

Demikian  pula  hati.  Bila  hati  mengambil  ruqyah  dan  doa-doa  perlindungan  dengan penerimaan  yang  sempurna,  bersamaan  dengan  orang  yang  meruqyah  memiliki  semangat  yang berpengaruh, niscaya ruqyah tersebut lebih berpengaruh dalam menghilangkan penyakit.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 8)

Al-Hafizh  Ibnu  Hajar  rahimahullahu  menyatakan,  terkadang  sebagian  orang  yang menggunakan  thibbun  nabawi  tidak  mendapatkan  kesembuhan.  Yang  demikian  itu  karena  adanya penghalang  pada  diri  orang  yang  menggunakan  pengobatan  tersebut.  Penghalang  itu  berupa lemahnya  keyakinan  akan  kesembuhan  yang  diperoleh  dengan  obat  tersebut,  dan  lemahnya penerimaan terhadap obat tersebut.

Tentang orimarrupwt

Seorang IRT yang merintis bisnis kuliner rumahan dan pengobatan alternatif Thibbun Nabawi
Pos ini dipublikasikan di Pengobatan Nabawi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s