MADU “KOQ” TIDAK MANJUR

Adalah dua kisah nyata yang mungkin mewakili banyak alasan mengapa orang ragu-ragu berpindah dari pengobatan kimia ke pengobatan herbal thibbun nabawi.

Kisah pertama terjadi pada seorang bapak di Purwokerto. Sudah enam bulan beliau menderita batuk yang membandel. Hebatnya, si bapak ini sangat yakin bahwa dengan madu, batuk yang dideritanya akan hilang. Selama enam bulan itu pula beliau selalu mengkonsumsi madu. Namun selama itu pula batuknya tidak kunjung pergi….

Keyakinan yang kuat tanpa dilandasi ilmu yang benar hanyalah kesia-siaan. Begitulah yang terjadi.

Secara awam memang kita kurang mengetahui bahwa sebenarnya madu itu bermacam-macam. Bahkan yang berkembang di masyarakat adalah mitos-mitos tentang madu.
Pada prinsipnya tidak ada madu yang palsu. Yang ada adalah kandungan madu yang berbeda-beda. Ada ibu-ibu yang jualan keliling madu, padahal madunya telah dicampur dengan air, buah asam, dan lain-lain. Mungkin istilah yang tepat adalah madu murni atau tidak.

Kembali ke kasus bapak tersebut. Kita menjadi bertanya kenapa meski sudah rajin dan yakin minum madu (tentu keyakinan ini sangat Qur’ani) namun batuknya tak kunjung hilang?

Kalau kita survei pasar, kebanyakan madu yang dijual adalah madu yang kadar airnya sangat tinggi bahkan ada yang mengalami fermentasi sehingga wadahnya (kalau menggunakan botol plastik) menggelembung dan ketika dibuka ada suara mak “juzzzz”. Ada pula ketika dinyalakan korek menjadi madunya menjadi menyala.
Nah, di sini prinsip utamanya. Madu yang kadar airnya terlalu tinggi tidak mampu berfungsi sebagai “media” pengobatan. Madu yang difungsikan sebagai obat sehingga menjadi sehat adalah madu yang kandungan/kadar airnya tidak lebih dari 20%.

Sama kasusnya dengan habbatussauda. Pengetahuan kita tentang habbatussauda sebagai obat segala penyakit menjadi “luntur” karena ternyata ada orang yang telah meminum 4000 kapsul habbatussauda dalam suatu rentang waktu, ternyata tidak sembuh-sembuh pula batuknya.

Setelah dibawa ke laboratorium dan dibandingkan, ternyata habbataussauda yang dikonsumsi oleh orang tersebut adalah “debu”-nya. Mirip seperti kasus teh. Teh KW1 meski diseduh seminggu tidak akan hilang kwalitasnya, namun teh KW7 (yang banyak digunakan dalam teh celup) tidak mungkin dipakai ulang karena memang kwalitasnya seperti itu.

Prinsipnya, khasiat habbatussauda adalah di minyaknya. Maka kalau Anda ingin benar-benar merasakan manfaat habbatussauda, carilah yang memang berkualitas sebagai obat.

Itulah mengapa, di sebuah pesantren di Jawa Barat terjadi dilema. Pesantren tersebut memiliki toko herbal, namun tidak “laku” jual. Madu dan habbatussauda yang dijual di sana, mungkin adalah madu dan habbatussauda dengan kwalitas yang belum memenuhi persyaratan.

Kembali ke masalah madu, bagi Anda yang ingin sehat dengan madu dan habbatussauda, pilihlah produk yang sesuai.
Madu Asli HPAI dan Madu Royal Jeli HPAI W1, W2, W3 adalah benar-benar madu yang dijaga kwalitasnya untuk mempertahankan konsep Thibbun Nabawi. Produk-produk tersebut memiliki kadar air 17,4% sehingga memang berfungsi maksimal sebagai media pengobatan.

Berikut kesimpulan uji lab yang telah dilakukan:
1. Aktifitas enzim diaktase, min (5,75)—Standar SNI adalah 3. Parameter ini menunjukkan kualitas dan kesegaran madu yaitu sebagai penanda adanya pemanasan terhadap madu atau penyimpanan yang terlalu lama. Semakin rendah aktifitas Enzim diastase berarti madu telah mengalami pemanasan dan penyimpanan yang terlalu lama.
2. Hidroksimetilfurfural, maks (0)—Standar SNI adalah 50. Parameter ini menunjukkan apakah madu telah mengalami proses pemanasan. Semakin tinggi nilai HMF berarti madu tersebut telah mengalami proses pemanasan yang lebih tinggi yang menyebabkan berkurangnya kualitas madu. Semakin rendah nilai parameter ini, semakin baik kualitas madu.
3. Kadar air maks, (17,4)—Standar SNI adalah 22. Parameter ini menunjukkan kadar air dan kekentalan yang terkandung dalam madu, semakin rendah kadar air dalam madu menunjukkan semakin banyak jumlah madu dalam setiap gramnya. Semakin rendah kadar airnya, maka semakin kecil peluang terjadinya fermentasi. Madu yang kadar airnya rendah selain akan tahan lama untuk disimpan, juga akan lebih efektif khasiatnya untuk pengobatan.
4. Gula pereduksi, dihitung sebagai glukosa, min (66,2)—Standar SNI adalah 66. Kandungan Gula Pereduksi berguna untuk mengetahui kemurnian madu karena merupakan komponen utama madu. Standar SNI Gula Pereduksi menunjukkan bahwa rata-rata madu murni (original) memiliki nilai 65. Madu yang memiliki nilai lebih tinggi,maka memiliki kualitas yang lebih baik dari standar rata-rata.

Maka, saran saya, belilah produk madu HPAI yang memang dimaksudkan untuk pengobatan. Cerdas dan bijaklah dalam membeli produk herbal. Insya Allah. Wallahu a’lam.

Tentang orimarrupwt

Seorang IRT yang merintis bisnis kuliner rumahan dan pengobatan alternatif Thibbun Nabawi
Pos ini dipublikasikan di Info Sehat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s